Latest News

Percakapan Yang Menarik

"Om Mario, aku mau ngeluh nih. Kenapa wanita sekarang pada matre?"
-"Hmm … baru tahu? Sebetulnya mereka dari dulu sudah begitu."
"Oh ya? Mereka dulu sudah matre?"
-"Bukan, kalau dulu namanya bukan matre, tapi moto duiten."
"Terus gimana kita bisa dapat yang baik?"
-"Ooh jangan salah kira. Yang baik pun, mereka juga begitu!"
"Kenapa Om?"
-"Dulu, sebelum saya menikah, saya kira semua wanita itu mata duitan, ternyata … betul!"
"Kwk wk wk … kak kak kaaaak … huk! uhuk!
-"He he … nih, minum dulu …"
"Aduh Om, aku keselek nih. Tapi apa Tante Linna juga seperti itu?"
-"Ya iyalah! Kalau dia tidak memaksa saya – dengan lembut – untuk berhasil secara finansial, keluarganya khan tidak akan bebas tumbuh dengan sehat, ceria, dan luas melihat dunia."
"Kenapa gitu?"
-"Wanita itu pemimpin yang sesungguhnya di keluarga kita."
"Tapi khan lebih sulit cari uang? Laki-laki yang cari uang itu khan harusnya yang memimpin?"
-"Kau pikir begitu? Coba pikirkan ini. Sulit mana bagi suami mencari uang sedikit, atau istrinya mengelola keluarga dengan uang sedikit yang dihasilkan oleh suaminya itu?"
"Yaaa … lebih sulit mengelola hidup dengan uang sedikit. Kalau cari uang sedikit mah, laki-laki sudah biasa."
-"Jadi kalau begitu, apakah salah jika wanita memilih laki-laki yang lebih pandai, lebih rajin bekerja, lebih tinggi cita-citanya, dan lebih besar dan jelas rencana-rencananya?"
"Nggak sih Om. Kalau aku jadi wanita milihnya juga gitu."
-"Ya, kalau jadi wanita, kau ini agak cantik juga."
"Apaaaa???"
-"He he he …"
"Jadi terus aku harus gimana nih Om?"
-"Jangan ditolak lagi, bahwa engkau harus menjadi pilihan pertama bagi sebaik-baiknya wanita. Belajarlah dengan baik, impikanlah yang besar, bekerja-keraslah engkau dalam kejujuran, jadikanlah dirimu pribadi yang baik dan ramah kepada sesamamu."
"Berapa lama aku harus begitu Om?"
-"Selama yang diperlukan untuk sukses?"
"Lama Om?"
-"Tergantung kepada kesegeraan mu bertindak. Jika engkau malas, keberhasilan mu lama. Jika engkau suka menunda, keberhasilan mu semakin jauh. Dan jika engkau suka menghindari pekerjaan, maka keberhasilan mu bersembunyi entah ke mana."
"Jadi sebetulnya aku sukses atau tidak itu, tergantung aku ya Om?"
-"Ya."
"Tuhan bagaimana?"
-"Tuhan menunggu mu berupaya, baru Dia memberi yang kau minta."
"Kalau aku nggak berupaya?"
-"Tuhan menunggu."
"Berapa lama."
-"Ooh … Tuhan itu Maha Sabar, jadi Dia akan menunggu mu sampai kapan pun."
"Kalau aku belum sukses sampai mati, gimana?"
-"Kapan?"
"Apanya?"
-"Matinya?"
"Lho? Yah nggak tahu?"
-"Makanya, jangan pikirkan yang menjadi keputusan Tuhan. Perhatikan yang ada dalam keputusanmu."
"Hmm … betul juga. Makanya, Om Mario jangan suka menunda, itu tidak baik."
-"Betul, terima kasih. Jangan sampai kalah sama yang muda ya?"
"Super sekali! Terima kasih. Sampai nanti ya?"
Mario Teguh – Loving you all as always